Pengalaman dan Aturan Bawa Sepeda Naik Kereta KRL dan MRT

Tips

Setelah sekian lama, akhirnya kemarin ngerasain juga commuting nenteng-nenteng sepeda. Berawal dari ban sepeda gunung di rumah yang udah bocor, nggak ada bengkel deket rumah juga sepedanya nggak bisa dibongkar pasang, yang pada akhirnya udah nggak ada masa depan. Cobain deh beli sepeda lipat. Setahun ketinggalan tren, tapi gapapa lah ya.

Sebenarnya proses mempertimbangkan untuk beli sepeda lipat ini cukup lama buat gue, kira-kira dua bulanan. Tanya sana-sini, lihat review di youtube, sampai riset harga di e-commerse dan market place. Awalnya mau beli yang kentang aja. Soalnya cuma mau cobain bawa ke dalam kereta itu gimana. Kalau ternyata kesan pertamanya merepotkan, ya tinggal jual atau hibahkan.

Tapi setelah dengar dari teman-teman, disaranin untuk pilih yang ringan dan ada magnetnya karena objektifnya untuk mobilisasi dengan kereta. Yang mana pasti akan butuh effort untuk nenteng-nenteng dan dorong-dorong. Sedangkan pertimbangan untuk pilih yang ada magnetnya supaya lipatannya nggak ambyar alias nggak kebuka-buka ketika didorong dan ditenteng.

At the end, jadilah beli sepeda ini. Speknya cukup buat tujuan gue. Beratnya cuma 12kg, ringkas, mudah dilipat dan ada magnetnya.

Menambatkan hati pada sepeda ini

Setelah sepeda sampai rumah, gue nggak serta merta langsung bawa naik ke KRL ataupun MRT. Kenapa? Karena banyak simulasi “what if” di kepala gue. What if… nanti nggak boleh masuk karena dimensi sepedanya nggak sesuai aturan. What if… sepedanya bermasalah pas di perjalanan, spare part-nya copot misalnya. Sedangkan gue baru pertama kali dan belum kenal banget sama sepedanya. Ya, walaupun sudah dirakit dari tokonya, rasa khawatir tetep aja meneror kaum-kaum insecure macam gue.

Karena gue newbie dalam dunia per-gowes-an, noob juga ya kan, sendirian pulan, maka dari itu gue melakukan hal-hal ini setelah sepedanya sampai ke rumah supaya nggak terjadi hal-hal yang diinginkan saat rencana ini dieksekusi.

BACA JUGA: CARA MENUJU ASTHA DISTRICT 8 DENGAN KERETA MRT

Hal-Hal yang Dilakukan sebelum Melakukan Perjalanan

  • Ke bengkel sepeda. Memastikan kondisi sepedanya oke buat dibawa perjalanan cukup jauh. (cukup jauh = bukan keliling komplek)
  • Kenali sepedanya. Gimana cara lipat dan pasangnya. Nah ini gue butuh waktu 1 minggu untuk ngelancarin folding dan unfolding sepedanya dari youtube.
  • Lengkapi spare spart yang dibutuhkan. Contohnya seperti holder botol minum maupun bel sepeda.
  • Biasakan diri dengan feeling mengendarai sepeda lipat. Karena sesungguhnya feeling naik MTB dan sepeda lipat itu berbeda. MTB lebih stabil saat kita lepas tangan dari handlebar, sedangkan sepeda lipat tidak. Jadi perlu diperhatikan untuk yang suka lepas tangan buat main handphone.

Aturan Bawa Sepeda Lipat Naik KRL

aturan bawa sepeda naik kereta

Taruh di belakang kabin

Hari Minggu, pukul 6 pagi, gue udah di Stasiun KRL Universitas Pancasila setelah 600 meter bersepeda dari rumah. Pagi itu gue berencana gowes di Jalan Sudirman, tempat CFD yang sekarang lagi dibekukan karena pandemi. Nggak perlu menunggu lama, kereta jurusan Tanah Abang pun tiba. Karena hari ini weekend dan masih pagi, jadi kondisi KRL dan stasiun pun cukup sepi. Gue segera naik di gerbong wanita paling depan dan menempatkan sepeda yang sudah terlipat di space samping pintu supaya nggak menganggu lalu lalang penumpang lain.

Yang harus diperhatikan dalam membawa sepeda ke dalam KRL

  • Pastikan sepeda yang kamu bawa adalah jenis sepeda lipat dengan dimensi tidak lebih dari 100 x 40 x 30 cm dan diameter roda maksimal 22 inch
  • Disarankan melakukan perjalanan bukan pada waktu sibuk (jam berangkat dan pulang kantor)
  • Pilih gerbong paling depan atau belakang untuk wanita. Sedangkan untuk pria, usahakan pilih kereta dengan 12 rangkaian yang mana terdapat gerbong dengan 6 pintu di setiap sisinya. Tempat ini cukup luas untuk menaruh sepeda.

Rute Gowes

Jalan Sudirman dengan Track Sepeda

Sebenarnya untuk rute gowes, gue nggak ada tujuan muluk-muluk. Cuma mau menyusuri Jalan Sudirman. Alasannya karena buat gue Jalan Sudirman itu salah satu jalur paling ramah untuk berolahraga, terutama bersepeda dan lari. Jalan yang lebar, pemandangan yang oke, dan fasilitas yang memadai, mencakup pedestrian, jalur sepeda dan transportasi umum.

Puas menyusuri Jalan Sudirman, gue memutuskan untuk ke GBK, terutama kawasan ringroad. Nyebrang deh lewat JPO viral nan estetik dengan cara nenteng sepeda, alias nggak dinaikkin, ya. Karena khawatir bisa merusak lantai jembatannya.

Nah surprisingly, GBK kemarin pagi ternyata ramainya bukan main. Antrean mobilnya sampai mengular di sepanjang gate masuk. Setelah masuk ke dalam lewat Gate 4, sejujurnya gue agak kecewa. Ringroad-nya sih buka, tapi ditutup untuk sepeda. Alhasil, gowesnya ambil rute yang sama sewaktu gue rajin ke GBK untuk lari, keliling GBK di lingkar luarnya sampai Stasiun MRT Istora untuk persiapan pulang.

Aturan Bawa Sepeda Naik MRT

Minta tolong orang potoin hehe

Enaknya MRT, di stasiunnya disediakan lift dan gerbong khusus untuk penumpang yang membawa sepeda. Selain itu, lokasi pintu gerbong khusus sepeda juga didesain dekat dengan lokasi MRT. Jadi nggak usah nenteng-nenteng naik eskalator maupun dorong-dorong jauh lagi.

Cuma, sebelum kamu berniat bawa sepeda ke dalam MRT, perhatiakan hal-hal ini terlebih dahulu, ya.

  • Jenis Sepeda Lipat dan Nonlipat
  • Gunakan lift dan gerbong yang sudah ditentukan. Untuk pintu gerbong, ditandai dengan stiker warna biru di lantainya.
  • Untuk sepeda nonlipat, ukuran dimensi maksimum adalah 200 x 55 x 120 cm dengan lebar ban maksimal 15 cm.
  • Akses untuk sepeda nonlipat hanya ada di beberapa stasiun seperti Stasiun Lebak Bulus Grab, Blok M BCA, dan Bundaran HI.
  • Sedangkan untuk waktu yang diperbolehkan untuk sepeda nonlipat adalah Senin-Jumat di luar jam sibuk (7-9 pagi & 5-9 malam).

BACA JUGA: STASIUN MRT YANG ADA FOTO BTS

Kesan dan Pesan Naik KRL dan MRT Bawa Sepeda

Gue turun di Stasiun Dukuh Atas dan nyambung naik KRL dari Stasiun Sudirman tanpa unfolding sepeda. Jadi didorong dan ditenteng aja sampai peron paling depan jalur 2. Terus ternyata hasilnya capek banget karena jarak dorong dan nenteng lumayan bikin tangan pegel.

Alasan kenapa gue memilih untuk naik dari peron paling depan adalah karena gerbong paling depan KRL jurusan Bogor/Depok cenderung lebih lowong dibanding gerbong belakangnya ketika tiba di Stasiun Sudirman. Bayangin deh, kalau diliat dari akses masuk Stasiun Tanah Abang dan Karet yang ada di bagian gerbong belakang, kira-kira isi gerbong belakangnya akan sepenuh apa ketika sampai di Stasiun Sudirman yang juga punya akses pintu masuk di belakang? Peluang ramainya pasti lebih besar daripada gerbong bagian depan kan. Alasannya karena gerbong belakang isinya sudah akumulasi jumlah penumpang yang naik dari Stasiun Tanah Abang dan Karet.

Kalau boleh di-summary, ini kesan dan pesan gue setelah ngerasain nenteng-nenteng sepeda lipat naik kereta.

Kesan
  • Seru, rasanya kayak waktu solo traveling. Khawatirnya, excitednya, pengalamannya.
  • Lebih capek nenteng-nenteng dan dorongnya ketimbang gowesnya. Terutama di stasiun KRL yang belum menyediakan lift.
  • Masih agak kesulitan di gate in dan out KRL karena masih ada besinya.
Pesan
  • Pilih waktu yang lowong. Kalau mau di jam sibuk, usahakan naik dari stasiun paling ujung
  • Kalau mau pindah ke moda kereta, better turun di satu stasiun yang sebelumnya. Contohnya kalau mau naik KRL di Stasiun Sudirman dan sebelumnya naik MRT, turun di Stasiun Setiabudi Astra atau Bundaran HI. Karena gowesnya lebih enteng daripada angkat-angkat sepedanya. Eh ini based on berat sepedanya juga ya.

Nah, kalo kalian pernah bawa sepeda lipat atau nonlipat naik kereta belum? Kalau pernah certain dong di kolom komentar. Tapi sebelum itu, intip dulu yuk video pengalaman gue naik kereta bawa sepeda di bawah ini.

@yuntango

Akhirnya udah nggak penasaran lagi naik kereta nentang-nenteng sepeda #fypシ #fyp

♬ original sound – Anakkereta.com – Anakkereta.com

You Might Also Like

18 Comments

  • Reply
    Muhammad Rifqi Saifudin
    April 13, 2021 at 5:51 am

    Aku malah gak punya sepeda, haha. Aku sendiri masih rada gimana gitu ya ngeliat sepeda bisa dibawa di KRL dan MRT, memudahkan sih buat yang gowes tapi kayak gimana ya, ya gitu lah, aku bingung jelasinnya. Tapi sebenarnya kalau di KRL sendiri sudah ada gak sih diatur soal membawa sepeda lipat dari dulu.

    Oh iya, kalau di KRL ditaruh di samping gitu ya? Gak boleh ditaruh di bagasi bagian atas? Kalau di MRT sama juga naruhnya kayak di KRL atau kayak gimana? Kalau aku punya sepeda lipat dan mau bawa buat KRL atau MRT, cara ngelipetnya itu sih yang bakal kuasah dulu biar gak ribet sendiri nanti pas gowes. Tapi emang sih, udah pasti lebih capek nenteng daripada gowes, kan gunanya sepeda buat digowes

    • Reply
      yuntango
      April 13, 2021 at 6:11 am

      Kayaknya untuk peraturan sepeda lipa sudah ada sejak e-ticketing, ya.

      Iya benar. Untuk sepeda lipatnya itu ditaruh di samping bangku penumpang yang dekat pintu atau di belakang kabin masinis. Nggak boleh taruh di bagasi atas.

      Nah kalau memang mau lebih aman dan nyaman, biasanya gunain tali pengikat supaya lipatan sepedanya ngga kendor. 😀

  • Reply
    maya rumi
    April 14, 2021 at 1:41 am

    dengan adanya mrt dan krl sebenernya jadi membantu dan memudahkan untuk yang seneng atau ingin gowes sepeda di tengah kota yah mba tapi aku tuh rempong kalau harus rakit sepeda lipat, hahaha belum lagi nenteng sepedanya sambil jalan udah gak sanggup duluan, jiahhhh… btw mba suka ada yang ngeliatin gak seneng gitu gak sih kalo bawa2 sepeda lipet masuk krl atau mrt ?

    • Reply
      yuntango
      April 14, 2021 at 2:03 pm

      Sebenarnya bisa didorong, Mbak. Cuma ya memang ada kalanya harus ditenteng. Hehehe.

      Ada, Mbak. Tapi aku mah bodo amat. Kan sudah sesuai peraturan. Hehehe.

  • Reply
    Eri Udiyawati
    April 15, 2021 at 4:16 am

    Aaa.. senengnya ada MRT, bisa bawa sepeda. Ada gerbong khusus untuk membawanya. Semoga kecanggihan transportasi ini bisa meluas di kota-kota lain se-Indonesia. Biar kalau aku mau gowes tinggal bawa itu sepeda tujuan, terus sepedaan deh sama temen. Praktis.

    • Reply
      yuntango
      April 15, 2021 at 4:26 am

      Iya. Alhamdulillah ya semakin ramah dan nyaman transportasi umum di Jakarta. Solusi banget buat yang belum bisa gowes jauh-jauh kayak aku wkwkwk

  • Reply
    Raja Lubis
    April 15, 2021 at 4:30 am

    Saya malah gagal fokus sama penamaaan stasiun MRT-nya yang penuh dengan pesan sponsor. Dan langsung googling nama-nama stasiun MRT di Jakarta. Ternyata memang unik-unik namanya ya.

    Di sekitaran Sudirman itu ada jalur khusus sepedanya nggak Kak? atau berbarengan dengan kendaraan umum lainnya?

    • Reply
      yuntango
      April 15, 2021 at 11:54 am

      Iya berbarengan, tapi sudah diberi tanda hijau di aspalnya untuk jalur sepeda 🙂

  • Reply
    Prima
    April 15, 2021 at 9:09 am

    Saya pribadi agak skeptis sama orang-orang yang gowes. Bukan apa-apa sih, it’s just mereka itu kalau sepedaan menuh2in tempat. Mana lama pula geraknya, bikin sensi apalagi pas hari kerja.

    Tapi, view saya tentang goweser ini sedikit berubah setelah tau bahwa teman saya yang bisnis kuliner, meraup profit banyak dari para goweser ini.

    Saya nggak pernah naik MRT, tapi, mungkin saya akan feel gimana gitu lihat orang masuk MRT bawa sepeda hehehe.

    • Reply
      yuntango
      April 15, 2021 at 12:00 pm

      Feel gimana Mas maksudnya? Kayak nggak biasa gitu ya. Gapapa kok wajar soalnya lifestyle gowes yang selama ini kan memang hanya untuk olahraga aja. Sedangkan sekarang sudah bisa digabungkan dengan aktivitas commuting. Mungkin kalau sudah banyak orang yang mengadopsi lifestyle commuting + bersepeda, jadi lebih terbiasa liatnya. 😊

  • Reply
    Dian
    April 15, 2021 at 1:06 pm

    12 kg itu masih berat menurutku mbaa :))

    cerita orang-orang gowes pulangnya naik kereta ini sempet rame di twitter beberapa waktu lalu, memang agak mengganggu ya kalau bawa sepeda pas kereta lagi penuh atau jam sibuk. makanya sampai ada aturan seperti itu.

    aku sendiri ga ngikutin trend sepeda, atau mungkin belum hehehe. olahraganya masih pake sepeda statis aja 😀

    • Reply
      yuntango
      April 15, 2021 at 1:34 pm

      Iya. Sebenarnya kalau dari KRL dan MRT-nya untuk sepeda lipat, nggak ada aturan harus jam berapa-berapa. Cuma ya sebagai penumpang kitanya kudu tau diri aja. Dan ini juga sebenarnya tergantung jalurnya sih. Kalau jalur Serpong masih aman bawa sepeda lipat ketika waktu sibuk (berangkat/pulang) kantor, karena cenderung masih manusiawi isinya. Sisanya, big no deh. Apalagi jalur central line kayak Jatinegara-Bogor. Meresahkan kalau jam pergi & pulang kantor. 😊

  • Reply
    Ira Hamid
    April 15, 2021 at 9:38 pm

    Saya membayangkan kayaknya agak repot yaa membawa masuk sepeda ke kereta, bukan cuman buat yang membawanya melainkan bagi penumpang lain juga. Tapi selagi gak dilarang, bagi saya its oke-lah, hehehe

    • Reply
      yuntango
      April 16, 2021 at 12:57 am

      Wkwkwkwk nggak repot banget kok, Mbak. Bagi yang nggak bisa gowes jauh ini bisa jadi solusi. Misalnya yang dari Bogor atau Serpong mau kerja di Jakarta, sampai Jakarta nggak mau naik ojol. Bawa sepeda lipat ini bisa jadi alternatif. Saat ini sudah ada beberapa yang menerapkan. Cuma ya harus pintar-pintar pilih waktu, stasiun awal dan jalur keretanya.

      Insya Allah nggak merepotkan penumpang lain soalnya penumpang lain nggak dimintain tolong buat angkat-angkat sepeda yang punya juga hehehe. Dan sudah ada aturan yang dibuat oleh PT KAI dan MRT yang pastinya sudah dikaji demi kenyamanan bersama. Mungkin kalau misalnya memang nggak nyaman liatnya, bisa pilih gerbong yang bukan khusus sepeda di MRT yang sudah disediakan, Mbak. 😀

  • Reply
    Andayani Rhani
    April 15, 2021 at 9:53 pm

    Pertama kali baca judulnya saya mikir, gimana ya kalau sepedanya bergerak sendiri alias maju mundur? Eh untungnya sepeda lipat. Saya sendiri memang suka goes tapi sayangnya sepedaku udah di jual sama ortu hiks hiks hiks

    • Reply
      yuntango
      April 16, 2021 at 1:00 am

      Iya, Mbak. Yang diperbolehkan jenis sepeda lipat dengan waktu dan stasiun yang tidak ditentukan. Kalau untuk sepeda nonlipat baru bisa di MRT dan itupun nggak semua stasiun punya aksesnya juga ada waktu yang diperbolehkan.

      Wah, semoga nanti ada rezeki ya untuk beli sepeda baru. 🙂

  • Reply
    Mutia Nurul Rahmah
    April 16, 2021 at 12:35 am

    Oh begitu ternyata caranya ya.
    Semoga nanti semua kendaraan umum yg besar dapat menghadirkan fasilitas “bawa sepeda” secara merata. Yaaa seperti di Pekanbaru ini kan adanya bus trans

    • Reply
      yuntango
      April 16, 2021 at 3:49 am

      Aamiin. Semoga pembangunan transportasi umum yang nyaman dan aman bisa merata nggak cuma di ibukota aja ya.

    Leave a Reply

    Scroll Up