Batara Kresna
Indonesia Rail Journeys

15 Jam di Solo, Bisa Naik Batara Kresna dan…

Solo, kota yang punya nama administratif Surakarta ini awalnya nggak pernah terpikir jadi salah satu kota yang mencuri perhatian gue. Dibanding Solo, nama Yogyakarta justru lebih santer terdengar di telinga dan bertandang di ingatan. Mungkin karena waktu masih sekolah, Yogyakarta selalu jadi destinasi untuk acara-acara sekolah, entah itu perpisahan atau fieldtrip. Tapi itu dulu, sebelum keisengan jemari yang lihai di atas layar sentuh ponsel menghantarkan gue pada satu daya tarik kota yang punya julukan The Spirit of Java ini tahun 2015 lalu, tepat sebelum negara api menyerang.

Berbekal nekat dan rasa penasaran yang tinggi, dengan uang di rekening yang pas-pasan, akhirnya gue membungkus segala perlengkapan seadanya dan berangkat ke Solo, sendiri, ditambah sedikit bumbu-bumbu kebohongan ketika pamit ke orang tua.

Tiket kereta dari Stasiun Gambir dengan tujuan Stasiun Solo Balapan ternyata jadi salah satu tiket yang paling diburu sejak H-90 dibuka. Argo Lawu dan Dwipangga adalah beberapa pilihan kereta eksekutif yang bisa mengantarkan gue (ataupun kamu) ke Stasiun Solo Balapan dengan jadwal yang ramah. Berhubung waktu yang gue punya terbatas, gue memilih kereta dengan jam keberangkatan malam dari Jakarta agar tiba di Solo pagi harinya, tentunya agar bisa explore Solo seharian. Eh bukan, cuma 15 jam.

Jadi apa yang bisa gue lakukan dalam 15 jam tersebut? Naik Batara Kresna dan… Ini dia ulasannya.

(05.00 – 06.00) Menikmati Sensasi Car Free Day di atas Becak

Sebenarnya ini adalah sebuah insiden yang jadi sensasi tersendiri dari sebuah quote “shit always happenseven in perfect itinerary”. Berbekal hal konyol ketinggalan kereta dengan kondisi “sadar”, akhirnya gue memilih alternatif ini untuk sampai ke Stasiun Purwosari.

Pagi itu gue berencana menuju Stasiun Purwosari dengan menggunakan kereta lokal Prambanan Express. Setelah membeli tiket gue menunggu di peron 5 sesuai dengan petunjuk petugas pemeriksa tiket di depan. Nggak lama, datanglah serangkaian kereta berwarna kuning yang setelah pintunya terbuka, penumpang yang sudah menunggu di peron 5 berbondong-bondong masuk ke dalam.

Karena baru pertama kali datang ke Solo, gue masih belum familiar kalau ini adalah kereta yang seharusnya gue naiki sebab waktu belum menunjukkan waktu keberangkatan yang tertea di tiket yang gue pegang. Juga tidak adanya nama Prambanan Express di badan luar kereta semakin menambah kepercayaan diri gue kalau kereta kuning ini bukan Prambanan Express.

Kedua faktor itu kemudian menghantarkan gue ke rangkaian tempat duduk di peron, membuka ponsel kemudian asik memantau timeline media sosial. Karena teralu asyik, kereta kuning itu pun berangkat dan betapa terkejutnya gue setelah sadar melihat jam di ponsel menunjukkan pukul 5.18. Gue memalingkan mata ke selembar tiket kereta Prambanan Express yang gue genggam, gue tatap lekat-lekat dan kali itu gue benar-benar tersentak melihat jam keberangkatan yang tertera di sana, jam 5.15. D*mn! Jangan-jangan kereta gue yang barusan jalan, pikir gue.

Tapi dalam keadaan genting kayak gitu, gue masih berusaha untuk menenangkan diri. Ah, mungkin keretanya telat kayak commuter line, gue masih mencari-cari pembenaran atas kekonyolan yang gue lakukan pagi itu.

Lima menit, sepuluh menit, nggak ada kereta yang bertengger di jalur 5. Gue pun makin gelisah. Hingga gue memutuskan beranjak ke luar stasiun untuk cari alternatif lain karena sudah kepalang gengsi tanya ke petugas mengenai kereta yang beberapa menit lalu bertolak dari jalur lima. Dan shit happened again, di luar nggak ada ojek! Sedangkan gue mesti cepet-cepet sampai Stasiun Purwosari demi ngejar itinerary lainnya jam 6 dan waktu sudah menunjukkan jam setengah enam pagi.

Dengan setengah kepercayaan akan sampai Stasiun Purwosari tepat waktu, akhirnya gue memutuskan untuk naik becak.

“Pak saya mesti sampe Stasiun Purwosari sebelum jam 6.” tukas gue kepada abang penarik becak yang pada akhirnya mengundang beliau untuk turut panik bersama.

Di tengah suasana panik yang mendera kami berdua, angin kota Solo menyapa dari setiap jengkal susur jalanan. Dari turunan, polisi tidur hingga tanjakan, si bapak dengan semangat mengayuh pedal becaknya. Sedangkan gue masih panik dan sesekali melirik layar ponsel hanya ingin mengetahui berapa jarak lagi yang harus kami tempuh untuk sampai di Stasiun Purwosari.

Sampai akhirnya tiba di Jalan Slamet Riyadi yang kosong akan kendaraan selain becak, sepeda dan odong-odong, setelah si bapak penarik becak menggeser portal yang menutup jalan kami di perbatasan Jalan Slamet Riyadi. Minggu pagi, Car Free Day rupanya juga menghiasi jantung Kota Solo. Pemandangan yang tersuguhkan menciptakan landscape teduh di sepanjang Jalan Slamet Riyadi yang rindang. Dan setelah beberapa menit berlalu melintasi Jalan Slamet Riyadi, akhirnya kami pun tiba di depan Stasiun Purwosari.

“Udah sampe mbak.” tukas bapak penarik becak.
Gue pun turun dan segera memberikan ongkos pada beliau.

“Ayo mbak lari mbak lari.” kemudian bapak penarik becak tiba-tiba bersorak memberikan semangat. Gue pun jadi termotivasi dan segera ambil langkah seribu, setelah melihat jam di ponsel yang menunjukkan pukul 05:50.

Mission Completed, dan drama berakhir. Terima kasih Pak, sudah antar saya dengan selamat, tepat waktu dan menempuh jarak 2km lebih. Bapak dabest!

(06.00 – 09.50) Naik Railbus Batara Kresna Paling Fenomenal plus Jadi Artis Dadakan

Kalau ditanya alasan kenapa akhirnya memilih Solo, poin ini adalah jawabannya. Dan kalau ditanya kenapa bersikeras harus sampai Stasiun Purwosari sebelum jam 6, poin ini juga jawabannya.

Setelah patah hati September lalu, kali ini gue nggak mau kehilangan kesempatan ketemu sama railbus paling fenomenal ini, Batara Kresna. Sesampainya di loket Stasiun Purwosari, ternyata tiket Kereta Api Perintis ini masih tersedia. Lucky me! Dengan penuh semangat gue pun masuk ke dalam dan menghampiri sang pujaan untuk melunasi rindu setelah tiket dengan trayek Purwosari – Wonogiri seharaga 4 ribu rupiah ada di tangan.

Kereta api perintis Bathara Kresna melayani trayek Purwosari – Wonogiri dengan masing-masing 2 kali jadwal keberangkatan dari Stasiun Purwosari dan Stasiun Wonogiri. Jadwalnya bisa kalian cek di sini ya.

Baca juga: Naik Kereta Priority kayak Naik Kereta Presiden

Dalam itinerary ini, gue sengaja ambil jadwal yang pemberangkatan pertama dari Stasiun Purwosari yaitu jam 6 dan berharap masih kedapatan jatah tiket balik Wonogiri – Purwosari pada keberangkatan pertamanya dari Wonogiri jam 9. Alasannya sederhana, supaya bisa ngejar agenda lain di siang hari. 🙂

Jam 6 tepat, Batara Kresna meninggalkan Stasiun Purwosari. Setelah 5 menit berlalu, kereta mulai memasuki Jalan Slamet Riyadi dan yang unik dari railbus ini pun terletak di sini. Semua penumpang yang ada di dalam kereta mendadak jadi artis, sebab warga yang sedang menikmati suasana Car Free Day mayoritas mengarahkan kamera ponsel maupun professional mereka ke arah perintis yang sedang lewat.

Setelah melewati Stasiun Solo Kota, panorama yang ditawarkan berubah dari rumah-rumah warga yang berjejalan jadi hamparan sawah dengan sinar matahari yang membuatnya makin menghijau, siap memanjakan mata siapa saja yang melintasinya.

Jam 8:45 kereta sudah sampai di stasiun tujuan, Stasiun Wonogiri. Dan di pintu masuk stasiun sudah berbaris penumpang yang telah sigap berlari menghampiri sang perintis yang sepenuhnya berhenti dan bertengger di rel stasiun kecil ini.

Seperti sudah ditakdirkan untuk menikmati perjalanan dengan perintis, gue masih diberikan kesempatan dapat tiket balik jam 9 setelah mengambil foto sejenak di depan perintis. Belum selesai sampai situ, keputusan gue untuk berdiri di samping pintu pun mengantarkan gue pada perbincangan alot tentang kereta dengan salah satu polsuska yang tadi gue mintai bantuan untuk ambil foto dan sang kondektur. Yang juga pada akhirnya dua petugas lain turut nimbrung hingga sang perintis tiba di Stasiun Purwosari.

Walau ternyata endingnya tidak berbuah manis karena nyatanya mereka masih tidak tahu siapa nama gue, namun itu pengalaman yang cukup berkesan di atas mampu mengikis rasa pegal yang menyerang kaki akibat berdiri selama 1 jam.

(10.00 – 11.30) Wara Wiri Hore di Sepanjang Jalan Slamet Riyadi

Puas melunasi rindu, gue berjalan dari Stasiun Purwosari menuju Jalan Slamet Riyadi yang kebetulan tidak terlalu jauh. Saat itu jam menunjukkan hampir pukul sepuluh dan Car Free Day pun sudah berakhir. Jalanan mulai dipenuhi dengan kendaraan dan orang-orang mulai memadati pedestrian untuk mencari sarapan yang tersisa dari pedangan kaki lima yang sudah bertengger sejak pagi tadi.

Gue berjalan menelusuri pedestrian Jalan Slamet Riyadi yang rindang dengan gontai, hingga gue sadar kalau gue harus bergegas mengambil gambar sang perintis yang sedang melintas di Jalan Slamet Riyadi, di tengah hiruk-pikuk kendaraan yang mengalah. Dan pagi itu gue merasa dewi fortuna masih mengepakkan sayapnya di atas ubun-ubun gue sebab gue tiba tepat waktu di spot di mana sang perintis keluar dari sarangnya. Dan kali ini peran gue bertukar menjadi paparazzi, bukan artis dadakan lagi.

Ada yang membuat perut gue terkocok waktu wara wiri hore di Jalan Slamet Riyadi pagi itu, setelah berhasil mengambil gambar sang perintis saat memecah kehiruk-pikukan jalan di jantung kota, gue terperangah di satu sudut. Kumpulan kendaraan kompak berhenti jauh di belakang zebra cross saat lampu lalu lintas menunjukkan warna merah tanda berhenti. Gue sempat menggeleng-geleng kepala tanda kagum dan sempat bergumam, “Wah… keren banget pengendara di sini ya.”.

Baca juga: 5 ALASAN KENAPA KAMU HARUS COBA NAIK KERETA BANDARA

Tapi kekaguman gue nggak berlangsung lama, bahkan melebur bersamaan setelah pandangan gue melayang ke arah seberang, ternyata di sana ada beberapa polisi lagi berpose di atas motor dinasnya yang segede gaban. Bahkan ada satu pengendara yang udah niat mau nerobos, dia mundur lagi karena ngedapetin ada polisi lagi ngumpet di samping kiri jalan. Pantes! Nggak jadi kagum, gue tarik lagi.Selesai diphp-in, gue masih menyusuri Jalan Slamet Riyadi buat cari sarapan. Eh ternyata diphp-in lagi karena warung-warung kaki lima udah pada kehabisan stok bahan makanan untuk dijual pagi itu. Yaudah, daripada kesel mending lanjutin perjalanan ke Kantor Dinas Perhubungan Kota Solo dengan jalan kaki.Buat apa? Buat apa ya? Buat apa hayoooo?

(12.00-13.00) Makan Nasi Liwet

Sebenarnya alasan kenapa harus ke Kantor Dinas Perhubungan Kota Solo karena mau naik city tur Werkudara. Tapi berhubung jadwalnya masih punya spare time sekitar 1 jam (karena jadwal bus berangkat jam 1), jadi melipir dulu cari makan siang. Beruntungnya, di dekat Kantor Dinas Perhubungan Kota Solo banyak pedagang yang jual kuliner khas Solo. Dan dari sekian banyak warung makan, gue pilih makan nasi liwet.

What’s special? Mungkin sebenarnya nggak ada yang spesial secara umum. Tapi buat gue pribadi spesial karena ini kali pertama gue makan nasi liwet di kota asalnya. Ehehehe.

Rasanya? Enak, pedas, dan ekonomis. Ibu-ibu penjualnya ramah pula. Ehehehe. I know this point will be useless for you, but just let it be written for formality. Lol.

(13.00-15.00) Keliling Kota Naik City Tour Werkudara

Naik City Tour emang jadi alternatif paling bener kalau cuma punya sedikit waktu untuk eksplor kota. Di Solo, punya city tour juga dengan nama Werkudara. Bisnya tingkat dengan balutan warna merah pada eksteriornya.

source: https://pariwisatasolo.surakarta.go.id/

Berbekal 20 ribu rupiah, gue bisa keliling kota Solo dan mengunjungi tempat-tempat bersejarah dan penting di kursi bus yang nyaman dan berAC. Tahun 2015 lalu, gue masih pesan lewat sms yang nomornya tertera di website kota solo.

Untuk rute Werkudara ini meliputi: Kantor Dishubkominfo, perempatan Manahan (Jl. Ahmad Yani), pertigaan Kerten (Jl. Slamet Riyadi), Sriwedari – Gladag – Balai kota – Pasar Gede – Bank Indonesia (berhenti sejenak untuk foto-foto) – perempatan Panggung (Jl. kolonel Sutarto) – Tugu Cembengan (Jl. Ir. Sutami) – Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ). Di TSTJ, bus akan berhenti sebentar agar penumpang yang sebelumnya duduk di dek bawah bisa bergantian duduk di dek atas dan sebaliknya.

Sedangkan untuk rute pulangnya adalah Kebun Binatang Jurug (Jl. Ir. Sutami) – Jl. kolonel Sutarto – Jl. Urip Sumoharjo – Jl. Jend Sudirman – Gladag – PGS – Sangkrah – Jl. kapten Mulyadi – Baturono – Jl. veteran – Tipes – Jl. bhayangkara – Baron – Jl. Dr. radjiman – Jl. perintis kemerdekaan – Purwosari – Jl. Slamet Riyadi – Kerten – Jl. ahmad Yani – Kantor Dinas Perhubungan, Manahan.

Puas kan?

(15.00-17.00) Nyobain Batik Solo Trans

Agenda selanjutnya setelah keliling kota dengan Werkudara adalah nyobain naik TransJaknya Solo, alias Batik Solo Trans. Karena gue nggak semua tujuan gue udah terpenuhi sama Werkudara, jadi gue naik BST tanpa da tujuan alias bawa aku ke mana pun kamu maulah hai Batik Solo Trans, aku cuma penasaran.

source: tentangsolo.web.id

Pengalaman? Kalau dari armada bus, kelayakannya masih nggak merata. Ada bus yang masih bagus, ada juga yang udah nggak layak alias ACnya mati. Untuk waktu tunggu di haltenya juga lama. Untung nggak berekspektasi apa-apa. Untuk metode pemyarannya juga tahun 2015 lalu masih cash. Jadi keteika penumpang masuk, kondektur akan keliling untuk menagih ongkos. 🙁

(17.00-18.00) Berburu Oleh-Oleh

Berhubung udah capek dan kereta gue berangkat jam 8, jadi gue memutuskan untuk cari oleh-oleh di sekitar Stasiun Solo Balapan. Sempet kenapa ya harus beli oleh-oleh padahal cuma 15 jam di sini, tapi ya gapapa kali ya menyenangkan orang-orang di rumah dan di kantor. Setelah bingung akhirnya memutuskan untuk beli usus goreng dan karak mentah dengan nihil ekspektasi.

(18.00-19.00) Makan Soto Daging di Warung Tenda Dekat Stasiun

Laper, dan lihat jam ternyata masih ada waktu untuk makan malam. Akhirnya muter-muter sedikit di sekitar stasiun. EH ketemu warung tenda yang jualan soto daging. Nggak nanya harga, duduk, pesen, dianterin, terus langsung makan. Di meja selain ada sambal, kecap dan sendok-garpu, ada toples kerupuk juga. Karena penasaran, gue cobain. Eh enak banget. Apalagi dimakan bareng sama soto dan nasi.

Karak, source: detik food

Bentuk kerupuknya persegi panjang dan warnanya cokelat kayak kerupuk gendar. Tapi ini teksturnya nggak keras tapi tetap renyah. Pas tanya, ternyata ini namanya karak. Terus keinget tadi beli oleh-oleh karak dua bungkus plastik, seketika langsung senang dan nggak sabar.

Another surprising thing, ternyata harga soto, nasi, 2 karak, dan teh tawar yang gue makan totalnya cuma 12 ribu. Murah benerrrrrrr.

Dengan begitu, acara makan malam dadakan ini menyempurnakan rasa bahagia gue mengunjungi kota Solo, walaupun cuma 15 jam. Setelah kenyang, gue balik ke stasiun untuk boarding dan naik kereta menuju Jakarta. Thank you, Solo. Will be back soon~

Tapi setelah 5 tahun belum balik-balik lagi. Wkwkwkwk.

Well, dari list di atas, mana aktivitas favorit saat ke Solo? Kalo gue tentu saja naik railbus Batara Kresna dong. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *