solo traveling ke jepang

Solo Traveling ke Jepang, Persiapan & Tips untuk Pemula

Tips

Jepang merupakan satu-satunya negara yang sangat gue sukai. Awalnya jatuh cinta sama anime/kartun yang sukses membuat masa kecil gue bahagia. Kemudian dilanjutkan dengan musik, dorama, hingga budaya mereka. Ketika gue menginjak umur belasan tahun, gue menulis di sebuah buku tentang cita-cita gue ke sana. Dan seiring berjalannya waktu juga, cita-cita itu jadi lebih spesifik dan masuk ke dalam bucket list gue, yaitu melakukan solo traveling ke Jepang.

Sebelum melakukan perjalanan seorang diri ke Jepang, tahun 2017 adalah tahun pertama gue menginjakkan kaki di sana. Saat itu gue berkunjung bersama dua orang teman. Kita menghabiskan sekitar seminggu dengan bermobilisasi di Osaka dan Tokyo. Dari sanalah kepercayaan diri gue terbentuk untuk melakukan solo traveling di tahun berikut. Tentunya dengan niat, tekad, nekat. Dan sebelum berangkat ke Jepang seorang diri, ini dia hal yang gue persiapkan.


Baca Juga: Nyobain Naik Kereta Shinkansen Jepang Hikari 


Persiapan Solo Traveling ke Jepang

1. Tiket Pesawat

Sama seperti ketika kunjungan tahun 2017, tiket pesawat pun gue beli setahun sebelumnya. Nah sebenarnya yang mentrigger gue untuk ke Jepang lagi adalah karena saat itu Airasia membuka rute langsung ke Tokyo dari Bali. Biasanya, penerbangan ke Jepang selalu transit di Kuala Lumpur. Nah, tiket ke Denpasarnya gue beli sebulan sebelum hari keberangkatan.

2. Menyiapkan Passport dan Visa

Passport masih aman karena dua tahun lalu sudah upgrade ke e-passport. Sedangkan visa yang gue gunakan untuk ke Jepang adalah visa maiver yang masa berlakunya masih 2 tahun lagi.

Solo Traveling ke Jepang

Visa Waiver

Visa waiver ini merupakan semacam bukti bahwa kita sudah melapor ke Kedutaan Besar Jepang kalau akan mengunjungi negaranya. Untuk membuat visa waiver ini tidak dipungut biaya alias gratis. Caranya hanya tinggal membawa e-passport, datang ke Kedubes Jepang dan mengisi formulir. Untuk waktu pembuatannya adalah 2 hari kerja dengan masa berlaku tiga tahun. Sedangkan untuk masa kunjungannya adalah maksimal 15 hari.

3. Merancang Itinerary secara Detail

Salah satu kesalahan dalam perancangan rencana perjalanan yaitu tidak detail. Apalagi jika ingin melancong ke Jepang yang memiliki budaya, teknologi serta bahasa yang berbeda. Membuat rencana perjalanan seadanya malah akan menyulitkan diri sendiri nantinya.

Jika di dalam rencana perjalanan kamu mengunjungi beberapa destinasi wisata, pastikan kamu menyertakan informasi mengenai cara sampai ke sana, rute yang akan diambil, biaya masuk, biaya transportasi yang harus kamu keluarkan serta prakiraan biaya konsumsi jika kamu ingin makan di suatu tempat.

Untuk membuat itinerary, gue banyak melakukan research di internet. Mulai dari blog orang lain hingga website resmi destinasi wisata. Oiya, ketika membuat itinerary, pastikan kamu sudah memilih jenis transportasi apa yang akan kamu prioritaskan. Saat itu gue memprioritaskan naik kereta. Dengan dibantu website HyperDia, pembuatan itinerary gue jadi jauh lebih mudah.

Solo Traveling ke Jepang

Tampilan Website Hyperdia

HyperDia ini adalah sebuah website yang menyediakan informasi mengenai rute dan timetable transportasi di Jepang, terutama kereta. Ada tiga fitur bahasa yang diterapkan di website ini yaitu, Jepang, Bahasa Inggris, dan Mandarin.

Cara menggunakan juga cenderung mudah. Kita tinggal ketik nama stasiun asal dan ingin dituju di kolom sebelah kiri website. Selanjutnya website ini akan menampilkan informasi jenis kereta apa yang tersedia, jam perjalanan, jarak, berapa kali transit dan juga tarifnya. Nggak hanya kereta, HyperDia juga kerap memberikan alternatif informasi dari jenis transporasi bus. Jangan khawatir, website ini bersifat gratis. Jadi siapa pun bisa menggunakannya.

Informasi yang disediakan HyperDia

Informasi yang disediakan HyperDia

4. Mencari dan Memesan Akomodasi

Setelah membuat itinerary dengan detail, hal selanjutnya yang gue lakukan adalah mencari akomodasi di situs seperti booking.com. Hal yang biasa gue pertimbangkan adalah lokasinya yang strategis. Strategis buat gue nggak melulu harus dekat dengan tempat wisata, melainkan harus dekat dengan stasiun kereta.

Untuk pemilihan akomodasi gue termasuk orang yang muluk-muluk. Nggak harus hotel mewah. Selama bisa tidur dengan ruang privasi yang cukup, aku rapopo. Makanya, untuk menghemat budget juga, gue pilih dormitory sebagai keputusan terbaik.

5. Membuat Transportasi Pass Card

JR Pass dan Tiket Shinkansen

Gue termasuk orang yang punya mobilitas tinggi kalau sedang traveling. Dan mengingat Jepang juga merupakan salah satu negara dengan sistem kereta api yang baik, jadi sayang banget kalau melewatkan kesempatan ini hanya dengan tidur-tiduran di hotel. Maka dari itu, demi menghemat budget dan memaksimalkan efisiensi waktu, gue memutuskan untuk membuat salah satu transportasi Pass Card yaitu JR Pass. Sebenarnya ada banyak jenis Pass Card, tapi gue memilih JR Pass karena mayoritas transportasi yang dicover adalah kereta.

Nah JR Pass ini buat gue adalah kartu sakti yang bisa buat gue naik kereta sepuasnya. Mulai dari kereta rel listrik dalam kota, antarkota, kereta bandara, sampai kereta cepat shinkansen. Nggak perlu beli tiket, tinggal tunjukkin ke petugas stasiun dan langsung bisa masuk stasiun dan naik kereta.

Untuk JP Pass hanya bisa dibeli di luar Jepang, ya. Kartu sakti ini memang dikhususkan untuk turis mancanegara. Saat ini sudah banyak agensi travel yang melayani pembelian JR Pass, seperti HIS Travel. Dan ada beberapa jenis sesuai dengan lamanya waktu kunjungan. Ada yang 7 hari, 14 hari, sampai 28 hari.

6. Koneksi Internet

Bagi yang memiliki kendala bahasa, internet jadi hal yang penting untuk menunjukkan arah. Tapi kalau sudah di luar negeri, penggunaan internet menjadi momok yang menakutkan sebab harganya yang selangit. Untuk tetap mengakses internet, gue menggunakan paket roaming dari XL yang waktu itu harganya sekitar 200-300ribu untuk satu minggu. Dan untuk menghemat kuota, gue menggunakan aplikasi offline map yang bisa diandalkan untuk menunjukkan arah. Hanya bermodalkan GPS beberapa aplikasi offline map ini bisa membantu, di antaranya maps.me. Tapi sebelum sampai Jepang, pastikan sudah mengunduh peta daerah yang akan dikunjungi, ya.

7. Belajar Kosa Kata Umum Bahasa Jepang

Buku saku Belajar Bahasa Jepang

Orang Jepang sangat mencintai bahasa mereka, tapi bukan berarti tidak memiliki kemampuan berbahasa Inggris. Kebanyakan dari mereka belum memiliki rasa percaya diri yang cukup untuk bercakap-cakap menggunakan bahasa Inggris dengan turis. Oleh karena itu, ada baiknya jika kamu juga belajar memahami bahasa mereka. Meraka akan sangat senang dan tak segan memberikan pujian kepada turis yang bisa mengerti bahasa mereka walau sedikit.

Untuk permulaan, gue belajar percakapan ketika memperkenalkan diri, mengucapkan terima kasih dan maaf, serta menanyakan arah dan harga. Kosakata sedikit ini pasti akan membantu ketika berada di sana.

Oiya, dan nggak usah khawatir soal bahasa karena petunjuk arah di sana mayoritas juga sudah menggunakan bahasa Inggris.

8. Cek Prakiraan Cuaca

Sebelum berangkat, gue mengecek prakiraan cuaca karena hal ini menurut gue wajib dilakukan. Dengan mengetahui prakiraan cuaca, kita jadi bisa menentukan outfit apa yang akan dikenakan dan meminimalisir saltum alias salah kostum. Nggak mau kan pakai celana pendek dan kaos tipis di suhu 7 derajat? Kalau pun kamu bersedia, siap-siap masuk angin dan punggung dipenuhi tato tulang ikan ya ketika sampai di Indonesia lagi.

9. Mempersiapkan Perbekalan Makanan dan Obat-Obatan

Mie Instant, Cabe Kering, Tolak Angin, Aroma Terapi

Bukan menjadi rahasia umum lagi bahwa biaya hidup di Jepang relatif mahal. Tak terkecuali harga makanannya. Karena itulah gue membekali diri gue dengan makanan seperti mie instan, biskuit untuk ngemil atau sarapan, minuman instant untuk sarapan seperti energen, dan teh atau kopi. Eits, bukan berarti nggak boleh makan makanan enak selama di sana ya. Makan enak tentu boleh. Tapi dengan membawa bekal makana sendiri, tentu akan menekan budget.

Untuk obat-obatan, gue membawa tolak angin dan fresh care sebagai aroma terapi. Nah ditambah dengan salep untuk pegal-pegal karena gue tau gue pasti akan banyak jalan kaki di sana. Secara trotoarnya sudah sangat ramah jadi kenapa harus takut berjalan kaki?

10. Belajar dari Tutorial

Jepang dengan segala teknologi dan sistem transportasinya yang baik sukses menarik banyak turis mancanegara. Mulai dari toilet, shower room hingga tata cara penggunaan mesin tiket di stasiun memiliki teknologinya sendiri. Buat gue sebagai yang tidak di pinggiran Jakarta, gue merasa penting banget melakukan hal ini. Supaya apa? Supaya nggak kaget dan katro banget ketika sampai sana.

Jadi memang ada baiknya sebelum mengunjungi suatu negara, kita menyempatkan diri membaca atau menonton tutorial menggunakan teknologi di negara tersebut. Seperti halnya toilet Jepang yang memiliki banyak tombol dan shower room di tempat penginapan, walaupun mesin tiket kereta sudah menyediakan bahasa Inggris, pasti kita akan kesulitan menggunakannya belum tau cara menggunakan mesin itu sebelumnya.

By the way, kalau mau merasakan langsung pengalaman toilet Jepang, kamu bisa datang ke CGV Grand Indonesia. Toiletnya kini sudah menggunakan teknologi Jepang pada kloset dan desainnya.


Baca Juga: Rasanya Naik Kereta Api Listrik Jepang, Osaka Loop Line


Itu dia persiapan dan tips solo traveling ke Jepang dari gue. Informasi yang gue sampaikan juga bisa kalian modifikasi kok karena semuanya kembali lagi ke tujuan dan prioritas masing-masing. Nah, untuk cerita selama solo traveling di Jepang, akan gue bagikan di artikel selanjutnya, ya. Stay tuned!

You Might Also Like

3 Comments

  • Reply
    Gallant
    February 25, 2021 at 4:44 am

    JR Pass ini banyak banget direkomendasikan sama blogger kalo mau jalan jalan ke Jepang. ternyata memang perannya penting banget yak.
    wah bawa Tolak Angin. #SobatTolakAngin juga ini. wkwkw.
    tapi, kalo bawa mie gitu, masaknya kapan dong?

    • Reply
      yuntango
      February 25, 2021 at 11:05 am

      Iya, sungguh sangat menghemat sih kalau mobilisasinya tinggi dan ke beberapa Kota. Nggak cuma kereta doang, bahkan bus dan beberapa transportasi umum laut juga dicover. Selama itu di bawah perusahaan JR, ya.

      Masak mienya pas di penginapanan. Biasanya penginapan share kitchen. Nah di situ bisa masak deh.

  • Reply
    Rachma
    March 23, 2021 at 10:35 am

    Wah baru tau ada website kayak hyperdia

  • Leave a Reply

    Scroll Up